BI QOLBIN SALIM
Selasa, 17 Februari 2015
Kamis, 27 Desember 2012
MANAJEMEN KABAR BURUNG
| Manajemen Kabar Burung | untuk semuanya |
Marilah sama-sama berdo’a bahwa upaya mengamalkan kebenaran yang haq ini nanti di yaumil mahsyar mendapat ridho Allah SWT, dimasukkan dalam golongan orang yang bertakwa dan akhirnya mendapatkan apa yang kita cita-citakan semasa hidup di dunia yaitu surga, InsyaAllah. Amin.
Berhati-hati dalam menanggapi suatu berita adalah suatu nasehat yang baik dan benar. Hendaklah kita tabayyun terhadap suatu berita apalagi bila berita tersebut bernuansa keburukan/kekeliruan/kesalahan terhadap seseorang atau komunitas tertentu siapa pun dia.
Hendaknya kabar burung bahwa suatu komunitas atau seseorang telah melakukan keburukan/kekeliruan/kesalahan atau menyimpang dari Qur’an dan Sunnah ditanyakan langsung kepada Pimpinan komunitas bila yang dipandang menyimpang adalah komunitas. Ditanyakan langsung kepada seseorang bila yang menyimpang adalah pribadi orang tersebut. Ini namanya tabayyun akan sesuatu yang dianggap menyimpang tersebut. Bukannya malah dibuka kepada umum.
Dari ayat ini, saya berlindung kepada Allah SWT bila ada kesalahan dalam memahami ayat diatas, Allah SWT menyuruh seorang Muslim senantiasa mengedepankan hikmah dan kebaikan serta kearifan dalam memberi pelajaran, mengingatkan, menasehati dan berdebat.
Selanjutnya dalam ayat tersebut Allah SWT menegaskan bahwa yang mengetahui siapa yang tersesat dan siapa yang mendapat petunjuk adalah Allah sendiri. Bukan saya, bukan saudara, bukan suatu komunitas, bukan siapapun. Tapi hanya melalui apa yang telah Allah turunkan kepada kita yaitu Al-Qur'an dan Sabda Rasul-Nya Muhammad SAW.
Karena itu tidaklah arif bila seseorang atau suatu komunitas menganggap dirinyalah yang mendapat petunjuk Allah SWT. Sedangkan yang tidak mengikuti seperti dirinya ikuti adalah termasuk komunitas yang tersesat. Na’udzubillahi min dzalik.
Rasulullah SAW memiliki sifat suci dan maksum. Kita, manusia adalah hamba Allah yang TIDAK SUCI, TIDAK MA’SHUM. Kita hanya berusaha semaksimal mungkin, dengan segala daya upaya untuk memahami dan mengamalkan sepenuh hati dan semaksimalnya ayat-ayat Allah dan Sunnah Nabi.
Bila ada yang mengaku Salafus Shalih tapi tidak mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunah, tentu kita sepakat bahwa pengakuan itu adalah bohong belaka atau Salafus Shalih palsu.
"Hai orang-or
ang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu"
Saya berlindung kepada Allah SWT bila ada kesalahan dalam memahami ayat diatas.
Allah perintahkan kita untuk meneliti kebenaran suatu berita. Dalam ayat tersebut disebutkan ”jika datang kepadamu orang fasik”. Kalau yang membawa berita itu memang sudah dikenal sebagai orang yang fasik, maka jelas kita harus meneliti kebenaran beritanya. Meskipun objek yang dijadikan berita tersebut adalah non muslim, kita sebagai muslim yang baik tetap harus menelitinya, karena yang membawa berita adalah orang yang fasik. Terlebih lagi bila berita tersebut berkenaan dengan tuduhan kejelekan atau keburukan seorang muslim atau suatu komunitas muslim tertentu.
Bagaimana kita tahu seorang itu fasik atau bukan jika kita tidak mengenal orang yang membawa berita tersebut? Apalagi pada zaman sekarang dimana informasi demikian mudah dan melimpah. Melalui internet kita bisa membaca berita atau tuduhan dari seseorang yang tidak kita kenal?
Bila berita tersebut berisi tentang kejelekan, keburukan, aib seseorang, baik dia Muslim atau non Muslim, maka sangat tidak terhormat bila kita sebagai seorang Muslim akan menerima mentah-mentah berita kejelekan tersebut. Apalagi bila hal itu ditujukan kepada sesama muslim. (Ingat surat An-Nahl 125 : Hanya Allah SWT yang tahu siapa yang sesat dan siapa yang dapat petunjuk). Hal demikian agar kita tidak terjerumus kedalam fitnah atau malah ikut menjadi sumber penyebar fitnah.
Mari apabila kita melihat ada kezaliman seseorang terhadap orang lain, maka kita wajib menolong orang yang mendzalimi dan juga menolong orang yang didzalimi. Sesama Muslim adalah bersaudara. Haram darahnya, Haram kehormatannya dan Haram Hartanya. Ini adalah sekedar nasehat.
Kata kunci: jembatan dzikir
ALANGKAH INDAHNYA AGAMAKU
| ALANGKAH INDAHNYA AGAMAKU | untuk semuanya |
Yang membuat aku terhenyak adalah bahwa wanita itu bukan orang Aceh, bukan wajah
Aku menatap sepintas mencoba memberi senyuman sebagai isyarat perkenalan seorang tetangga. Namun dia tidak terusik dengan kehadiranku. Romannya tenang, asyik dengan apa yang dia lakukan. Membuka daun pintu pagar, berjalan miring agar nampannya tidak menabrak ujung pintu satunya yang masih tertutup.
Dia sudah diluar pagar sewaktu langkahku sudah melewati panjangnya pintu pagar. Rasa penasaran makin mengusik, aku menoleh ke belakang memastikan apa isi wadah yang indah dan kemana mau dibawa pada senja menjelang gelap ini. Oh… keduakalinya aku terperangah. Tepat di tengah pintu pagar di ujung daun pintu yang masih menutup dia merendahkan tubuhnya. Menekuk lutut, duduk setengah bersimpuh menempelkan ujung lutut ke tanah. Nampan ditaruh di tanah. Dipindahnya sebuah wadah, khusyu, pelan diletakan ke tanah. Isi wadah itu bukan ketan kuning. Sejumput mawar, melati dan beberapa bunga atau daun. Tangannya meraih semacam lidi. Dibakarnya ujungnya. Asap putih kecil membumbung ke atas tak terputus. Hio.
Kembali otakku bekerja cepat dan cepat sekali, berkelebat silih-berganti, seiring langkahku menuju mushalla. Di Aceh – wanita bule – upacara hindu – bule Bali – sembahyang – memuja sesuatu – orang Barat – rasional – sesaji – di Aceh dstnya.
Kembali aku menoleh. Wanita itu sudah menutup pintu pagarnya kembali. Kemana dia? Dimana wadah-wadah itu akan diletakkan? Didepan pintu utama, di garasi, belakang rumah, sudut-sudut rumah? Untuk menjaga rumah dan penghuninya dari gangguan? Agar sesuatu itu menjaganya?
Stereotip orang Barat itu rasional, materialistis, empiris. Sementara dia meyakini ada hubungan transendental antara yang real dengan yang mistis. Antara yang nyata dengan yang gaib. Antara manusia dengan sesuatu yang menguasainya. Relasi itu terhubung melalui mediasi janur, bunga, hio dan lokasi tertentu. Bagaimana manusia dapat menentukan media perantara yang tepat untuk menjalin hubungan dengan sesuatu tadi?
Aku sudah masuk mushalla.
Iqamah berkumandang, sholat maghrib berjamaah dimulai. Sebentar aku dapat konsentrasi dengan bacaanku, sebentar aku terusik fenomena tadi. Kucoba menkhusyulan sholat, otakku mengajak berfikir bagaimana cara menemui wanita tadi, memperkenalkan diri, membuka diskusi. Kutartilkan bacaan, kuresapkan makna-makna do’aku. Bertemu dia, berarti diskusi agama dalam bahasa Inggris? Lebih sulit dibanding dialog sehari-hari. Diskusi agama dalam bahasa Indonesia saja perlu mengatur kata dan kalimat yang tepat. Asyhaduallaa ilaaha illallah, aku masih sholat. Ya Allah ampuni aku.
Do’a sesudah sholat kupanjatkan, kulantunkan satu-satu. Tapi, bagaimana dalam diskusi nanti aku harus menyampaikan ayat-ayat Al-Quran dalam bahasa Inggris? Kasihan wanita rasionil tadi. Afalaa tadzakkaruun. Apa tidak menggunakan rasionya?
Ya Allah, agama yang Engkau turunkan sangat indah. Aku bisa langsung berkomunikasi dengan diri-MU. Tidak perlu perantara, tidak perlu lambang-lambang. Allahumma a’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatika. Ya Allah, tolonglah aku untuk tetap berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-MU dan untuk memperbagus ibadahku kepada-MU.
Sholat sunah rawatib aku kerjakan. Kembali dia berkelebat. Kalau aku bisa menjelaskan kepada wanita bule tentang Islam, ayat-ayat Al-Qur’an, dalam bahasa Inggris yang tepat, aku akan mengembalikan rasionalitasnya. Agamaku sangat rasional, sangat-sangat masuk akal. Attahiyatulillah. Washshalawaatu ……. Ya Allah aku sedang sholat, aku sedang menghadap kepada-MU. Khusyukan, khusyukkan ya Allah.
Melangkah kembali ke rumah.. Bayangan wanita itu melekat dalam sel-sel memoriku, mengganggu sholatku. Anehnya aku puas. Terbuka terang benderang. Agamaku sangat indah. Agamaku tidak mengenal perantara. Allah membuka pintu-Nya bagi siapa yang ingin berkomunikasi dengan diri-Nya. Silakan lakukan itu tanpa melalui perantara, tanpa melalui ulama, tanpa melalui kuburannya, tanpa melalui imam, ustad, bahkan tanpa melalui Rasul-Nya. Tidak.
Konon lagi harus melalui makhluk-Nya yang lain, dengan sesaji hewan, sesaji bunga, pohon, batu yang mereka itu derajatnya lebih rendah dari manusia. Mereka itu sebentar saja layu, kuning, kering dan mati kembali ke tanah. Dimakan binatang lain, diisap akar pohon yang lain. Begitu berulang-ulang. Indah sekali agama yang Engkau turunkan ya Allah. Mulia sekali syariat-syariat yang Engkau ciptakan untuk kami. Bahkan Engkau melarang kami untuk menghina sesembahan-sesembahan mereka.
WA LAA TASUBBULLADZIINA YAD’UUNA MINDUUNILLAHI FAYASUBBULLAHA ‘ADWAN BIGHAIRI ‘ILMIN.
“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah; karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan” [AL-AN’AM 6:108]
Terimakasih ya Allah. Indah sekali semua ini.
Kata kunci: coretan
Conten Multiplyku
| SENTHONG | Jun 16, 2012 |
SEPARO PERTAMA DAN SEPARO KEDUA DALAM IMAN
SEPARO PERTAMA DAN SEPARO KEDUA DALAM IMAN Iman terbagi dua, separo dalam sabar dan separo dalam syukur. (HR. Al-Baihaqi) Dalam kehidupan keseharian ada dua hal yang senantiasa menyertai hidup manusia yaitu pertama, berupa cobaan/uijian... lagiJumat, 14 Desember 2012
DENGAN SEBENAR-BENAR JIHAD
Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.DIA TELAH MEMILIH KAMU.Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan kamu dalam agama suatu kesempitan.
[Al-Hajj 22:78]
Allah SWT menyatakan bila kamu masuk agama Islam maka sekali-kali agama ini tidak akan membuat kamu sempit. Artinya bahwa seorang muslim akan merasa lapang,bahagia, tentram, damai dstnya. Itulah janji Allah SWT.
Konsekwensi orang yang menyatakan diri sebagai seorang muslim adalah mengimani Allah yang berarti menjalankan perintah dan larangan Allah. Seorang muslim juga mengimani Rasulullah Muhammad SAW yang berarti dia siap mencontoh-teladani kehidupan rasulullah. Kemudian seorang muslim juga mengimani kitab suci Al-Qur’an yang berarti dia harus membaca, mempelajari dan mengamalkan apa isi dari kitab tersebut.
Kita yakin bahwa Allah itu Ar-Rahman, Ar-Rahim dan yakin bahwa janji Allah itu adalah benar. Salah satu janjinya adalah ”Sekali-kali tidaklah Allah menjadikan kamu dalam beragama Islam itu suatu kehidupan yang sempit” sebagaimana ayat tersebut di atas.
Namun dalam kehidupan sehari-hari sering kita mendengar bahwa untuk melaksanakan syariat Allah itu terasa sulit. Agama Islam seakan telah menjerat dirinya sehingga tidak bebas melakukan apa yang diinginkan atau disenangi untuk melakukan atau mendapatkannya. Mengapa ada sebagian saudara Muslim kita yang berprasangka demikian?
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? Dan Allah membiarkan sesat dengan ilmunya. Dan Allah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan membuat penglihatannya ditutup. [Al-Jatsiyah 45:23]
Allah menjelaskan bahwa penyebab kesempitan hidup itu adalah bila seseorang mengaku sebagai Muslim tapi masih mendahulukan hawa nafsunya daripada tuntunan Allah. Mengumbar nafsu keinginan duniawi yang secara fisik duniawi itu lebih nyata, lebih terasa dan dapat diperoleh seketika dibanding akherat. Secara ringkas dikatakan telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, sehingga tertutuplah pendengaran, hati dan penglihatan. Dengan tertutupnya ketiga instrumen tsb, seseorang tidak menyadari bahwa apa yang diperoleh secara fisik (duniawi) itu sifatnya sementara, tidak kekal. Tidak menyadari bahwa kecintaannya terhadap duniawi itu pada satu titik tertentu akan membosankan karena ada fasilitas2 fisik lain yang lebih baru, lebih menyenangkan, lebih canggih.
Kecintaannya kepada kendaraan, perabot rumah tangga, pakaian, dan hal-hal duniawi lainnya ternyata hanya sementara. Apabila telah muncul kendaraan yang lebih canggih, perabot yang lebih indah, pakaian yang lebih modis, maka dengan gampang dia buang kecintaan yang lalu, berubah pada kecintaan yang baru.
Seseorang yang mengaku dirinya Muslim tapi masih mempertuhankan hawa nafsu, pada gilirannya akan mengambil sebagian syariat yang menyenangkan dan membuang yang tidak menyenangkan.
... Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. [AL-BAQARAH 2:85] . .... kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya,.... [AL-AN’AM 6:91]
Padahal ukuran senang atau tidak senang, cocok atau tidak cocok, menjadi bersifat subyektif sebab diukur dengan ukuran diri pribadi atau diukur menurut hawa-nafsunya.
Kesadaran Muslim
Seorang yang telah menyatakan dirinya Muslim sudah semestinya ke-Muslim-annya itu bukan karena ikut arus tapi benar-benar timbul dari hati sanubarinya, muncul dari akal sehatnya. Sehingga Muslim yang baik akan senantiasa berpedoman kepada perintah dan larangan Allah dalam mengisi hari-harinya. Muslim yang baik akan mengkhusyukkan diri mendalami Al-Qur’an dan As-Sunah. Karena dalam kedua kitab tersebut tercantum pedoman hidup dalam berhubungan dengan Allah (Hablum minAllah), berhubungan dengan sesama manusia (Hablum minannaas) dan perlu ditambah lagi hubungan yang jarang (kalau boleh dikatakan tidak pernah) disebut yaitu berhubungan dengan alam semesta (Hablum minassamaa’i wal ardhi).
Segala aktifitas hidupnya hanya semata-mata mengharapkan keridho’an Allah SWT. Ikhlas, ridho, berserah diri terhadap segala huum dan ketetapan Allah dan Rasul-Nya.
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. [Al-Ahzab 33:36]
Dalam rangka mengamalkan ayat diatas, seorang Muslim yang baik akan bersungguh hati menggerakkan segenap aktifitas hidupnya semaksimal mungkin untuk hanya dan hanya berjihad di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.
Jihad adalah perbuatan yang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati mengerahkan kemampuannya. Baik kemampuan fisik maupun kemampuan rohani serta kemampuan pikir dan kemampuan organisasi. Segala daya upaya dikerahkan semaksimalnya pada jalan Allah. Sedemikian pentingnya jihad ini sehingga Allah menambah dengan kata-kata haqqan jihaadihi – dengan sebenar-benar jihad. Artinya bahwa pengerahan segenap kemampuan tersebut bukan ditujukan kepada hal-hal duniawi tapi semata-mata dalam rangka mengharap ridho Allah SWT. Bukan karena untuk pamer (riya’), popularitas, mengharap harta, wanita maupun tahta.
Dengan membuang jauh-jauh keinginan pamer, popularitas, harta, wanita dan tahta maka masih adakah ruang kesempitan dalam agama Islam? Masih adakah rasa takut, gengsi, sungkan, malu untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, bila seorang Muslim yang baik sudah sampai pada tataran berjihad dengan sebesar-besar jihad?
Semua yang dihadapi di dunia ini menjadi ringan, luas, lega, mempesona. Tak ada rasa sempit menyesak dada tanpa obat pereda. Tak ada beban yang menelikung badan tanpa penyangga. Tak akan mundur menebar kebenaran walau orang mencela. Tarian seorang Muslim tetap dalam koridor Allah dan Rasul-Nya, adalah langkah kemenangan, kebahagiaan, keberuntungan. Bukan hanya keberuntungan duniawi, tapi Allah SWT menambahnya dengan keberuntungan di akherat kelak. Subhanallah.
Maka janji Allah SWT bila seorang Muslim yang baik telah berjihad dengan sebenar-benar jihad adalah huwajtabaakum, Dia(Allah) telah memilih kamu. Bila Allah sudah memilih kita adakah agama ini terasa sempit?. Sedangkan menjadi pilihan Allah adalah merupakan puncak -pencapaian tertinggi- seluruh upaya penghambaan diri kita. Segala puji bagi Allah yang Maha Rahman dan Maha Rahim. Maka dengan demikian, kesulitan, kesukaran, kesedihan, perasaan tertelikung, terpaksa dalam agama islam, semua itu menjadi nihil. “
Allah tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan”
Kamu yang dimaksud disini adalah seorang Muslim yang tulus ikhlas. Orang itu “mengenal” Allah dengan sebenar-benarnya. Oleh karenanya :
- Dia menjaga imannya atas hawa nafsu dirinya sendiri. [Al-Jatsiyah 45: 23] dan tidak akan mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui[Al-Jatsiyah 45: 18]
- Dia menjadikan dirinya sebagai teman yang setia (bergabung, berkumpul, berjama’ah) kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman yang menjaga imannya. [At-Taubah 9:16]
- Dia tinggalkan lingkungan masyarakat yang menjadikan agama sebagai olok-olok, melecehkan Allah, merendahkan Rasul dan mempermainkan syari’at. [An-Nisa’ 4:140, Al-An’am 6:68, 70]
- Diia berjihad dengan jihad yang sebenarnya. [Al-Hajj 22:78]
- Dia ikhlas dan ridho dengan kuasa Allah atas diri-Nya, sampai-sampai ada ungkapan “Andaikan Allah memasukkan diriku kedalam neraka dan Allah ridho, maka dengan senang hati aku terima karena mengharap ridho-Nya”
Langganan:
Komentar (Atom)